Oktober 30, 2009

Sistem Pertanian

Wamena adalah ibukota Kabupaten Jayawijaya yang terletak di lembah baliem didominasi suku Dani. Lembah Baliem merupakan lembah daerah datarin tinggi (1500-2000 m dpl). Ubi jalar yang lebih dikenal namanya hipere merupakan makanan pokok penduduk asli suku Dani. Teknik dan cara budidaya usahatani hipere mereka lakukan secara tradisional dan sudah dilakukan secara turun temurun.

Petani suku Dani menanam ubi jalar pada tumpukan-tumpukan tanah berbentuk guludan tunggal yang lebih dikenal dengan cuming. Di atas cuming ditanam satu stek ubi jalar. Varietas yang ditanam petani umumnya adalah varietas lokal (helaleke), disamping itu petani sudah mengadopsi varietas Papua Salossa, Papua Patippi dan Cangkuang. Varietas ini merupakan hasil kerjasama Balitkabi, BPTP Papua dan ACIAR.

Pembagian kerja dalam pengelolaan usahatani ubi jalar cukup jelas. Mengolah tanah dilakukan oleh pria, sedangkan wanita melakukan penanaman, pemanenan, menjual serta memasak. Kaum pria mengolah lahan dengan menggunakan peralatan skop, parang, garpu dan linggis. Petani tidak menggunakan pacul.

Kondisi alam yang berbukit-bukit dan bergelombang menyebabkan sebagian lahan pertanaman ubi jalar ditanam di lereng-lereng perbukitan. Petani membuat lahan tegak lurus kontur, tidak searah kontur (Lihat gabar di bawah ini). Petani beralasan ubi jalar yang ditanam pada lahan tegak lurus kontur memiliki rasa yang lebih manis dibandingkan ubi jalar yang ditanam pada lahan searah kontur.

Menurut petani suku Dani, ubi jalar yang ditanam pada lahan searah kontur akan menyebabkan air tertahan pada bedengan sehingga menyebabkan ubi jalar kurang manis dan mereka tidak menyukai rasanya. Dalam menyikapi hal ini, BPTP Papua telah melakukan sosialisasi tentang pembuatan lahan searah kontur untuk mengurang laju erosi. Bagaimanapun sosialisasi tersebut terhambat karena sulit untuk merubah kebudayaan lokal yang sudah diterapkan selama turun-temurun. Masih dibutuhkan waktu lagi untuk memberikan pemahaman kepada petani tentang bahaya erosi pada lahan yang berada di lerang bukit.

Dalam pengolahan lahan, petani telah menerapkan prinsip-prinsip LEISA (low external input suistenable agriculture). Petani tidak menggunakan pupuk an organik seperti merek dagang Urea, SP-36 dan KCl dan tidak menggunakan pestisida untuk mengendalikan hama penyakit. Kebijakan Pemerindah daerah Kabupaten Jayawijaya tentang pelarangan penggunaan pupuk an organik dan pestisida perlu didukung untuk menjadikan daerah ini sebagai kawasan “organik” .

Untuk mengurangi resiko kegagalan panen serta meningkatkan ketahanan pangan di daerah ini, BPTP Papua mengintroduksi pertanaman multikultur serta tumpangsari. Salah satu tempat introduksi tersebut adalah pada kelompok tani wanima-2 di kampung Wanima, distrik Hubikosi.

BPTP Papua mulai memperkenalkan tanaman lain selain ubi jalar seperti kentang yang bibitnya diperoleh dari hasil kultur jaringan Balitsa, jagung dan kedelai. Semua tanaman tersebut dibudidayakan secara organik. juga sudah mulai diperkenalkan sistem tanaman secara tumpang sari. Kegiatan introduksi ini diharapkan dapat meningkatkan ketahanan penduduk lokal serta memberikan alternatif bahan pangan.

Dalam cara pengolahan tanah BPTP Papua juga memperkenalkan sistem bedengan. Dengan penerapan bedengan ini tentu diharapkan hasil panen yang maksimal. Struktur tanah di wamena cenderung liat. Kondisi ini menyebabkan tanah cepat banjir ketika hujan dan cepat kering ketika tidak mendapat hujan. Tidak ada sistem irigasi, kebun mengandalkan sistem tadah hujan. Hasil olahan tanah menggunakan sekop dan garpu berupa bongkahan-bongkahan tanah.

Panen dilakukan oleh kaum wanita. mereka menggunakan linggis atau kayu untuk mencari-cari ubi yang siap panen di dalam tumpukan tanah. Setelah menemukan ubi jalar yang siap di panen, tanah dibuka untuk mengambil ubi tersebut. Setelah ubi dikeluarkan dari tanah lalu tanah ditimbun kembali. Cara ini merupakan salah satu penyimpanan ubi jlar segar buntuk ketahanan pangan keluarga. Ubi-ubi tersebut dikumpulkan ke dalam noken, yaitu semacam tas khas lokal yang digantungkan dikepala. Kaum wanita akan membawa ubi jalar dalam noken tersebut ke rumah untuk di makan anggota keluarga.

Cara masyarakat mengolah ubi jalar secara turun-temurun adalah dengan bakar batu. Batu di bakar menggunakan kayu api. Setelah panas, batu diangkat menggunakan penjepit dari kayu dan dimasukan ke dalam lubang yang telah dipersiapkan di tanah. Lalu di atas batu ditumpuk ubi jalar, sayuran dan babi serta ditutup lagi dengan batu dan dedaunan. Terkadang pada bakar batu hanya berisi ubi jalar saja, tidak dengan sayur atau babi. Setelah matang, tumpukan dibuka dan ubi jalar tersebut dibagi secara merata kepada anggota keluarga atau kelompok.

Setiap budaya memiliki caranya masing-masing untuk hidup. Kita tidak bisa mengatakan suatu budaya itu baik atau buruk. Jika pihak lain memaksakan kebudayaannya maka akan terjadi benturan kebudayaan yang kadang berakibat fatal. Tulisan ini mencoba untuk memberikan gambaran mengenai kebudayaan ubi jalar di daerah lembah baliem tersebut agar pihak-pihak yang berkepentingan dapat bekerjasama untuk menyelesaikan masalah kerawanan pangan di daerah ini (Adnan dan Afrizal Malik).

Sumber: http://papua.litbang.deptan.go.id

0 komentar:

Poskan Komentar

Trimaksih atas komentarnya

Recommended